PBI UII Gagas Akselerasi Tugas Akhir Lewat Pendekatan Psikologis Mahasiswa

YOGYAKARTA – Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (Digital Inovatif), Fakultas Ilmu Sosial Budaya, Universitas Islam Indonesia (FISB UII) menyelenggarakan Workshop Pembimbingan Skripsi Berbasis Pendekatan Psikologis dan Karakteristik Mahasiswa pada Kamis, 21 Mei 2026. Bertempat di Ruang Microteaching Gedung PBI UII, kegiatan ini digelar untuk membekali para dosen dengan strategi bimbingan yang adaptif terhadap dinamika mental mahasiswa demi menjaga kelancaran masa studi.
Workshop kali ini menghadirkan narasumber ahli yang juga merupakan dosen Prodi Psikologi UII, Rr. Indahria Sulistya Rini, S.Psi., M.A., Psikolog. Dalam pemaparannya, Indahria membedah secara mendalam mengenai dinamika psikologis mahasiswa dalam proses pengerjaan tugas akhir, mulai dari pemetaan kondisi riil mahasiswa, mengenali gejala-gejala klinis saat bimbingan, hingga memahami makna psikologis yang melatarbelakangi hambatan tersebut.
Dalam sesinya, Indahria mengingatkan bahwa tidak semua mahasiswa berada dalam kondisi mental yang ideal saat menghadapi tugas akhir. Berdasarkan pengalamannya, hambatan mahasiswa dalam mengerjakan skripsi seringkali dipicu oleh faktor eksternal yang berlapis. Permasalahan keluarga menjadi pemicu paling dominan yang kemudian diikuti oleh tekanan dari lingkungan teman sebaya. Akumulasi dari masalah-masalah ini kerap bermanifestasi menjadi distress psikologis pada mahasiswa, seperti stres berat, kecemasan (anxiety), hingga gejala depresi.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Indahria menekankan pentingnya bagi dosen pembimbing untuk mengenali karakteristik personal mahasiswa melalui beberapa strategi taktis:
- Pemetaan Tipe Mahasiswa: Mengidentifikasi hambatan spesifik mahasiswa untuk menentukan bentuk pendekatan bimbingan yang paling efektif.
- Pemberian Apresiasi (Reward): Memberikan validasi dan apresiasi atas setiap progres sekecil apapun demi membangun kembali kepercayaan diri mahasiswa.
- Penetapan Target yang Realistis: Menyusun milestone pengerjaan tugas akhir yang terukur bersama mahasiswa agar mereka tidak merasa kewalahan.
- Monitoring Berkala: Melakukan pengawasan yang konsisten namun tetap suportif guna mendeteksi jika mahasiswa mulai menunjukkan gejala burnout atau buntu ide.

Sebagai bagian dari praktik baik (good practices) yang telah dilakukannya, Indahria membagikan pengalaman unik mengenai pentingnya ruang bimbingan yang cair. Menurutnya, motivasi mahasiswa seringkali jauh lebih mudah masuk dan diterima ketika proses diskusi dilakukan dalam kondisi non-formal, seperti suasana bimbingan yang santai di rumah dosen, di mana jarak hierarki antara dosen dan mahasiswa dapat melebur secara positif.
Lebih lanjut, workshop ini mendiskusikan formula krusial dalam menjaga keseimbangan tiga pilar utama tugas akhir: empati terhadap kondisi psikologis mahasiswa, pemeliharaan kualitas akademik yang ketat, serta pencapaian target kelulusan tepat waktu. Melalui pendekatan psikologis yang tepat, empati tidak akan menurunkan standar kualitas, melainkan menjadi jembatan agar mahasiswa mampu mencapai performa akademik terbaiknya secara sehat.
Merespons paparan tersebut, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (Digital Inovatif) UII, Puji Rahayu, S.Pd., M.LS.T., Ph.D., mengakui adanya sudut pandang baru yang membuka mata para dosen dalam memahami kondisi riil di lapangan.
“Selama ini kami kepikiran apakah tekanan akademik separah itu jadi penyebab stres dan kecemasan mahasiswa. Ternyata menurut penelitian justru dari tekanan keluarga dan rekan sejawat lah yang lebih berpengaruh. Di satu sisi kami lega, tapi di sisi lain jadi harus semakin memutar otak bagaimana membimbing tugas akhir dengan tetap peduli dan memperhatikan aspek-aspek non-akademis seperti keluarga dan pertemanan itu,” ungkap Puji Rahayu.
Meskipun proses pengerjaan tugas akhir kerap memicu tekanan, intervensi yang humanis dari dosen pembimbing diharapkan mampu mengubah dinamika bimbingan menjadi lebih suportif. Dengan mengenali gejala perubahan perilaku dan memberikan ruang aman bagi mahasiswa, prodi tidak hanya mengantarkan mereka menuju kelulusan, tetapi juga memastikan wellbeing psikologis mereka tetap terjaga dengan baik selama proses akademik berjalan. (FSA)
![]()





















