Dari Ruang Pembelajaran BTQ SLB, Mahasiswa PBI UII Raih Juara 1 LKTIM PIKIR 2026

YOGYAKARTA – Berawal dari pengamatan pembelajaran BTQ di SLB ABCD Tunas Kasih, Donoharjo, Sleman, tiga Mahasiswa PBI UII berhasil meraih juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa (LKTIM) dalam pada Pekan Ilmiah dan Kreativitas Remaja (PIKIR) 2026. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Makassar (UNISMUH) dan berlangsung pada tanggal 31 Agustus – 4 September lalu.
Karya tulis yang berhasil ditulis bertajuk “Analisis Kebutuhan Media Pembelajaran Multisensori Berbasis VAKT untuk Pengenalan Huruf Hijaiyah bagi Murid dengan Hambatan Intelektual Sedang”. Berdasarkan informasi dari peserta, inovasi ini dilatarbelakangi akan kebingungan siswa dalam membedakan antara huruf hijaiyah beserta huruf latin, seperti halnya huruf “ba” yang terbaca dipahami sebagai “be”. Temuan ini menjadi acuan bagi peserta bahwa media pembelajaran perlu dirancang ulang dengan menekankan aspek multisensori.
Peserta juga menemukan bahwa target pembelajaran BTQ tidak hanya berkutat pada pengukuran sejauh mana anak bisa membaca. Partisipasi aktif serta kemandirian (bina diri) menjadi salah satu faktor keberhasilan dalam pembelajaran. Hanya saja, dalam karya yang ditulis, tim tidak langsung mengembangkan produk media pembelajaran. Mereka terlebih dahulu memetakan kebutuhan siswa di lapangan sebagai landasan untuk pengembangan media pembelajaran berbasis VAKT pada tahap selanjutnya.
Adapun mahasiswa yang berhasil meraih kejuaraan tersebut antara lain Rikza Muhadzab Al Tamimi, Fadila Mutia Lubna, dan Saidatul Nurul Aini. Dalam kompetisi tersebut, mereka menjadi satu-satunya tim finalis yang berasal dari luar Sulawesi serta menjadi peserta termuda dari 15 finalis lainnya.

“… sebagai tim dengan tingkat semester paling muda di antara para finalis, kami menyadari sepenuhnya bahwa ruang kompetisi nasional ini diisi oleh tim-tim hebat dari berbagai perguruan tinggi. Kami menyaksikan langsung bagaimana para finalis lain menampilkan performa yang sangat luar biasa, mulai dari gagasan yang komprehensif, penyampaian yang lugas, hingga persiapan yang begitu matang. Kondisi tersebut tidak membuat kami berkecil hati, melainkan memicu kami untuk menguatkan mental dan saling menyemangati antaranggota tim. ” ujar Rikza.
Walaupun terbilang muda, para peserta membuktikan bahwa kapasitas tidak selalu dipengaruhi usia. Dalam proses perlombaan, para peserta tetap optimis dan berlatih semaksimal mungkin agar mampu mempresentasikan hasil karyanya di depan para juri. Kerja keras inilah yang mengantarkan mereka pada posisi juara 1.
“Satu prinsip yang selalu kami pegang adalah: “Do it scared. Be brave, take the challenge, be wrong, take the lesson.” Keterbatasan pengalaman maupun usia semester bukanlah penghalang untuk ragu melangkah dan membuktikan potensi diri” ucap Rikza. (NDW)























